SOE HOK GIE: Kenangan Kepada Seorang Demonstran
Enam belas Desember 30 tahun lalu, Soe Hok
Gie, tokoh mahasiswa dan pemuda, meninggal dunia di puncak Gunung Semeru,
bersama Idhan Dhanvantari Lubis. Sosok dan sikapnya sebagai pemikir, penulis,
juga aktivis yang berani, coba ditampilkan Rudy Badil, yang mewakili rekan
lainnya, Aristides (Tides) Katoppo, Wiwiek A. Wiyana, A. Rachman (Maman),
Herman O. Lantang dan almarhum Freddy Lasut.
“Siap-siap kalau mau ikut naik lagi ke
Gunung Semeru. Kasih kabar secepatnya, sebab harus ada persiapan di musim
penghujan Desember, juga pertengahan Desember itu bulan puasa Ramadhan,” kata
Herman O. Lantang, mantan pimpinan pendakian Musibah Semeru 1969, yang masih
amat bugar di umurnya yang sudah lewat 57 tahun.
Terkejut dan tersentuh juga saya saat
mendengar ajakan Herman itu. Dia merencanakan membentuk tim kecil untuk mendaki
puncak Semeru lagi Desember ini, sambil memperingati 30 tahun meninggalnya dua
sobat lama kami, Soe Hok Gie dan Idhan Lubis. “Kita juga akan berdoa, sekalian
mengenang Freddy Lasut yang meninggal beberapa bulan lalu,” lanjutnya.
Soe meninggal dunia saat baru berumur 27
tahun kurang sehari. Idhan malah baru 20 tahun. “Tanpa terasa Soe sudah tiga
dasawarsa meninggalkan kita sejak Orde Baru … perkembangan yang terjadi di
Tanah Air dalam dua tahun terakhir ini, khususnya gerakan mahasiswa yang telah
menggulingkan pemerintahan Orde Baru, mengingatkan kita kembali pada situasi
tahun 1960-an, ketika Soe masih menjadi aktivis mahasiswa kala itu,” begitu
bunyi naskah buku kecil acara “Mengenang Seorang Demonstran”, (berisikan antara
lain diskusi panel soal bangsa dan negara Indonesia ini), yang bakal
diselenggarakan Iluni FSUI dan Alumni Mapala UI.
Kasih Batu dan Cemara
Dari beberapa catatan kecil serta dokumentasi yang ada, termasuk buku harian Soe yang sudah diterbitkan, Catatan Seorang Demonstran (CSD) (LP3ES, 1983), di benak saya mulai tergali suasana sore hari bergerimis hujan dan kabut tebal, tanggal 16 Desember 1969 di Gunung Semeru.
Dari beberapa catatan kecil serta dokumentasi yang ada, termasuk buku harian Soe yang sudah diterbitkan, Catatan Seorang Demonstran (CSD) (LP3ES, 1983), di benak saya mulai tergali suasana sore hari bergerimis hujan dan kabut tebal, tanggal 16 Desember 1969 di Gunung Semeru.
Seusai berdoa dan menyaksikan letupan Kawah
Jonggringseloko di Puncak Mahameru (puncaknya Gunung Semeru) serta semburan uap
hitam yang mengembus membentuk tiang awan, bersama Maman saya terseok-seok
gontai menuruni dataran terbuka penuh pasir bebatuan. Kami menutup hidung,
mencegah bau belerang yang makin menusuk hidung dan paru-paru.
Di depan kelihatan Soe sedang termenung
dengan gaya khasnya, duduk dengan lutut kaki terlipat ke dada dan tangan
menopang dagu, di tubir kecil sungai kering. Tides dan Wiwiek turun duluan.
Sempat pula kami berpapasan dengan Herman dan Idhan. Kelihatannya kedua teman
itu akan menjadi yang paling akhir mendaki ke Mahameru.
Dengan tertawa kecil, Soe menitipkan batu
dan daun cemara. Katanya, “Simpan dan berikan kepada kepada ‘kawan-kawan‘ batu
berasal dari tanah tertinggi di Jawa. Juga hadiahkan daun cemara dari puncak
gunung tertinggi di Jawa ini pada cewek-cewek FSUI.” Begitu kira-kira kata-kata
terakhirnya, sebelum bersama Maman saya turun ke perkemahan darurat dekat batas
hutan pinus atau situs recopodo (arca purbakala kecil sekitar 400-an meter di
bawah Puncak Mahameru).
Di perkemahan darurat yang cuma beratapkan
dua lembar ponco (jas hujan tentara), bersama Tides, Wiwiek dan Maman, kami
menunggu datangnya Herman, Freddy, Soe, dan Idhan. Hari makin sore, hujan mulai
tipis dan lamat-lamat kelihatan beberapa puncak gunung lainnya. Namun secara
berkala, letupan di Jonggringseloko tetap terdengar jelas.
Menjelang senja, tiba-tiba batu kecil
berguguran. Freddy muncul sambil memerosotkan tubuhnya yang jangkung. “Soe dan
Idhan kecelakaan!” katanya. Tak jelas apakah waktu itu Freddy bilang soal
terkena uap racun, atau patah tulang. Mulai panik, kami berjalan tertatih-tatih
ke arah puncak sambil meneriakkan nama Herman, Soe, dan Idhan berkali-kali.
Beberapa saat kemudian, Herman datang
sambil mengempaskan diri ke tenda darurat. Dia melapor kepada Tides, kalau Soe
dan Idhan sudah meninggal! Kami semua bingung, tak tahu harus berbuat apa,
kecuali berharap semoga laporan Herman itu ngaco. Kami berharap semoga Soe dan
Idhan cuma pingsan, besok pagi siuman lagi untuk berkumpul dan tertawa-tawa
lagi, sambil mengisahkan pengalaman masing-masing.Tides sebagai anggota tertua,
segera mengatur rencana penyelamatan. Menjelang maghrib, Tides bersama Wiwiek
segera turun gunung, menuju perkemahan pusat di tepian (danau) Ranu Pane,
setelah membekali diri dengan dua bungkus mi kering, dua kerat coklat, sepotong
kue kacang hijau, dan satu wadah air minum. Tides meminta kami menjaga kesehatan
Maman yang masih shock, karena tergelincir dan jatuh berguling ke jurang kecil.
“Cek lagi keadaan Soe dan Idhan yang
sebenarnya,” begitu ucap Tides sambil pamit di sore hari yang mulai gelap.
Selanjutnya, kami berempat tidur sekenanya, sambil menahan rembesan udara
berhawa dingin, serta tamparan angin yang nyaris membekukan sendi tulang.Baru
keesokan paginya, 17 Desember 1969, kami yakin kalau Soe dan Idhan sungguh
sudah tiada, di tanah tertinggi di Pulau Jawa. Kami jumpai jasad kedua kawan
kami sudah kaku. Semalam suntuk mereka lelap berkasur pasir dan batu kecil
Gunung Semeru. Badannya yang dingin, sudah semalaman rebah berselimut kabut
malam dan halimun pagi. Mata Soe dan Idhan terkatup kencang serapat katupan
bibir birunya. Kami semua diam dan sedih.
Mengapa Naik Gunung
Sejak dari Jakarta Soe sudah merencanakan akan memperingati hari ultahnya yang ke-27 di Puncak Mahameru. Malam sebelumnya, tanggal 15 Desember, dalam tenda sempit di tepi hutan Cemoro Kandang, Soe yang amat menguasai lirik dan falsafah lagu-lagu tertentu, meminta kami menyanyikan lagu spiritual negro, Nobody Knows, sampai berulang-ulang. Padahal irama lagu ini monoton sampai sudah membosankan kuping dan tenggorokan.
Sejak dari Jakarta Soe sudah merencanakan akan memperingati hari ultahnya yang ke-27 di Puncak Mahameru. Malam sebelumnya, tanggal 15 Desember, dalam tenda sempit di tepi hutan Cemoro Kandang, Soe yang amat menguasai lirik dan falsafah lagu-lagu tertentu, meminta kami menyanyikan lagu spiritual negro, Nobody Knows, sampai berulang-ulang. Padahal irama lagu ini monoton sampai sudah membosankan kuping dan tenggorokan.
Idhan yang pendiam, cuma duduk
tertawa-tawa, sambil mengaduk-aduk rebusan mi hangat campur telur dan kornet
kalengan. Malam dingin dan hujan itu, kami bertujuh banyak bercerita, termasuk
mendengarkan rencana Soe yang mau berultah di puncak gunung. “Pokoknya gue akan
berulang tahun di atas,” katanya sambil mesam-mesem. “Nyanyi lagi dong. Lagu
Donna Donna-nya Joan Baez itu bagus sekali.”
Pagi hari nahas itu, sebelum berkemas untuk
persiapan pendakian ke puncak, kami sarapan berat. Soe yang biasanya cuma
bercelana pendek, kini memakai celana panjang dengan sepatu bot baru. Bahkan
dia mengenakan kemeja kaus warna kuning dengan simbol UI di kantung. “Keren
enggak?” Tanyanya.
Rombongan pun berjalan mendaki, menuju
Puncak Mahameru dari dataran di kaki Gunung Bajangan. Soe sebagaimana biasanya,
selalu memanggul ransel besar dan berat, berjalan gesit sambil banyak cerita
dan komentar. Ia mengisahkan bahwa di sekitar daerah itu pasti masih banyak
harimau karena dia menemukan jejak kakinya. Dia juga menyebut kalau Cemoro
Kandang berlumpur arang gara-gara kebakaran hutan pinus tahunan, sebagai
pertanda seleksi alam dan proses regenerasi tanaman hutan.
Dosen sejarah ini terus nyerocos kepada
mahasiswanya (saya), asal muasal nama recopodo alias arca kembar, serta
mitologi Puncak Mahameru yang berkaitan dengan nasib Pandawa Lima dalam pewayangan
Jawa. Namun sang mahasiswa juga membayangkan dengan geli, betapa kagetnya wakil
DPR-RI saat itu ketika menerima bingkisan dari kelompok Soe berisi gincu dan
cermin sebagai perlambang fungsi anggota DPR yang banci. Sayang, cuma segitu
ingatan saya tentang Soe pada jam-jam terakhirnya.
Yang masih tetap terngiang justru rayuan
dan “falsafahnya”, kala mengajak seseorang mendaki gunung. “Ngapain lama-lama
tinggal di Jakarta. Mendingan naik gunung. Di gunung kita akan menguji diri
dengan hidup sulit, jauh dari fasilitas enak-enak. Biasanya akan ketahuan,
seseorang itu egois atau tidak. Juga dengan olahraga mendaki gunung, kita akan
dekat dengan rakyat di pedalaman. Jadi selain fisik sehat, pertumbuhan jiwa
juga sehat. Makanya yuk kita naik gunung. Ayo ke Semeru, sekali-kali menjadi
orang tertinggi di P. Jawa. Masa cuma Soeharto saja orang tertinggi di P. Jawa
ini,” kira-kira begitu katanya, sambil menyinggung nama mantan Presiden
Soeharto, nun sekitar 30 tahun lalu.
Memang pendakian ke Semeru ini merupakan
proyek kebanggaan Mapala FSUI 1969. Soe dengan keandalannya melobi kiri-kanan,
mampu mengumpulkan dana untuk subsidi penuh beberapa rekan yang mahasiswa bokek
sejati.
Singkat cerita, musibah sudah terjadi. Soe
mungkin tidak membayangkan betapa kematiannya bersama Idhan Lubis bikin repot
setengah mati banyak orang. Kami yang ditinggal dalam suasana tak menentu,
selama sembilan hari benar-benar hidup tidak kejuntrungan. Selain puasa sampai
tiga hari karena kehabisan makanan, kami makin sedih saat menerima surat dari
Tides via kurir, menanyakan keadaan Soe dan Idhan.
Herman, kami sudah sampai di Gubuk Klakah
hari Kamis pagi, sesudah jalan sepanjang malam (sekitar 20 jam). Pak Lurah
menyanggupi tenaga bantuan 10 orang dan bekal. Mohon kabar bagaimana Soe,
Idhan, dan Maman dll. secepatnya mendahului rombongan … Tides dan Wiwik
18-12-69.
Saya pun terpilih menjadi kurir, mendahului
rombongan sambil membawa surat untuk Tides. Isinya apalagi kalau bukan minta
bantuan tenaga dan bahan makanan. Herman pun menulis surat: Saya tunggu di
Cemorokandang dan bermaksud menunjukkan “site” tempat jenazah Soe dan Idhan …
kirimkan: gula/gula jawa, nasi, lauk, permen, pakaian hangat … sebanyak mungkin!
Akhirnya, semua bantuan tiba. Seluruh
anggota rombongan baru berkumpul lagi pada tanggal 22 Desember di Malang. Kurus
dan kelelahan. Maman terpaksa dirawat khusus beberapa hari di RS Claket.
Sedangkan Soe dan Idhan, terbaring kesepian di dalam peti jenazah
masing-masing. Untuk terakhir kali, kami tengok Soe dan Idhan. Soe yang mati
muda, terbujur kaku dengan kemeja tangan panjang putih lengkap dengan dasi
hitam. Jenis barang yang tidak mungkin dipakai semasa hidupnya.
Monyet Tua Yang Dikurung
Kalau diingat-ingat, selama beberapa minggu sebelum keberangkatan dengan kereta api ke Jatim, Soe memang suka berkata aneh-aneh. Beberapa kali dia mengisahkan kegundahannya tentang seorang kawan yang mati muda gara-gara ledakan petasan. Ternyata dalam buku hariannya di CSD, Hok Gie menulis: “… Saya juga punya perasaan untuk selalu ingat pada kematian. Saya ingin ngobrol-ngobrol pamit sebelum ke Semeru ….”
Kalau diingat-ingat, selama beberapa minggu sebelum keberangkatan dengan kereta api ke Jatim, Soe memang suka berkata aneh-aneh. Beberapa kali dia mengisahkan kegundahannya tentang seorang kawan yang mati muda gara-gara ledakan petasan. Ternyata dalam buku hariannya di CSD, Hok Gie menulis: “… Saya juga punya perasaan untuk selalu ingat pada kematian. Saya ingin ngobrol-ngobrol pamit sebelum ke Semeru ….”
Soe yang banyak membaca dan sering diejek
dengan julukan “Cina Kecil”, memanfaatkan kebeningan ingatannya untuk menyitir
kata-kata “sakti” filsuf asing. Antara lain, tanggal 22 Januari 1962, ia
menulis: “Seorang filsuf Yunani pernah menulis … nasib terbaik adalah tidak
dilahirkan, yang kedua dilahirkan tapi mati muda, dan yang tersial adalah umur
tua. Rasa-rasanya memang begitu. Bahagialah mereka yang mati muda.”
Soe yang penyayang binatang (dia memelihara
beberapa ekor anjing, banyak ikan hias dan seekor monyet tua jompo), sebelum
musibah Semeru itu sempat berujar: “Kehidupan sekarang benar-benar membosankan
saya. Saya merasa seperti monyet tua yang dikurung di kebun binatang dan tidak
punya kerja lagi. Saya ingin merasakan kehidupan kasar dan keras … diusap oleh
angin dingin seperti pisau, atau berjalan memotong hutan dan mandi di sungai
kecil … orang-orang seperti kita ini tidak pantas mati di tempat tidur.”
Arief Budiman, sang kakak yang menjemput
jenazah Soe di Gubuk Klakah, juga merasakan sikap aneh adiknya. Sebelum dia
meninggal pada bulan Desember 1969, ada satu hal yang pernah dia bicarakan
dengan saya. Dia berkata, “Akhir-akhir ini saya selalu berpikir, apa gunanya
semua yang saya lakukan ini. Saya menulis, melakukan kritik kepada banyak orang
… makin lama makin banyak musuh saya dan makin sedikit orang yang mengerti
saya. Kritik-kritik saya tidak mengubah keadaan. Jadi, apa sebenarnya yang saya
lakukan … Kadang-kadang saya merasa sungguh kesepian.” (CSD) Arief sendiri
mengungkapkan, ibu mereka sering gelisah dan berkata: “Gie, untuk apa semuanya
ini. Kamu hanya mencari musuh saja, tidak mendapat uang.” Terhadap Ibu, dia
cuma tersenyum dan berkata: “Ah, Mama tidak mengerti”.
Arief pun menulis kenangannya lagi: … di
kamar belakang, ada sebuah meja panjang. Penerangan listrik suram karena
voltase yang selalu naik turun kalau malam hari. Di sana juga banyak nyamuk.
Ketika orang-orang lain sudah tidur, sering kali masih terdengar suara mesin
tik … dari kamar yang suram dan banyak nyamuk itu, sendirian, sedang mengetik
membuat karangan … saya terbangun dari lamunan … saya berdiri di samping peti
matinya. Di dalam hati saya berbisik, “Gie kamu tidak sendirian”. Saya tak tahu
apakah Hok Gie mendengar atau tidak apa yag saya katakan itu.
Mimpi seorang Mahasiswa Tua
John Maxwell yang menyusun disertasinya, Soe Hok Gie – A Biography of A Young Indonesia Intellectual (Australian National University, 1997), menjabarkan betapa banyaknya komentar penting terhadap kematian Hok Gie. Harian Indonesia Raya yang masa itu sedang gencar-gencarnya mengupas kasus korupsi Pertamina-nya Ibnu Sutowo, memuat tulisan moratorium tentang Soe secara serial selama tiga hari.
John Maxwell yang menyusun disertasinya, Soe Hok Gie – A Biography of A Young Indonesia Intellectual (Australian National University, 1997), menjabarkan betapa banyaknya komentar penting terhadap kematian Hok Gie. Harian Indonesia Raya yang masa itu sedang gencar-gencarnya mengupas kasus korupsi Pertamina-nya Ibnu Sutowo, memuat tulisan moratorium tentang Soe secara serial selama tiga hari.
Mingguan Bandung Mahasiswa Indonesia,
mempersembahkan editorial khusus:
…Tanpa menuntut agar semua insan menjadi seorang Soe Hok-gie, kita hanya bisa berharap bahwa pemuda ini dapat menjadi model seorang pejuang tanpa pamrih … kita membutuhkan orang seperti dia, sebagai lonceng peringatan yang bisa menegur kita manakala kita melakukan kesalahan.
…Tanpa menuntut agar semua insan menjadi seorang Soe Hok-gie, kita hanya bisa berharap bahwa pemuda ini dapat menjadi model seorang pejuang tanpa pamrih … kita membutuhkan orang seperti dia, sebagai lonceng peringatan yang bisa menegur kita manakala kita melakukan kesalahan.
Di luar negeri, berita kematian Soe sempat
diucapkan Duta Besar RI Soedjatmoko, di dalam pertemuan The Asia Society in New
York, sebagai berikut:
… Saya ingin menyampaikan penghormatan pada kenangan Soe Hok-gie, salah seorang intelektual yang paling dinamis dan menjanjikan dari generasi muda pasca kemerdekaan …. Komitmennya yang mutlak untuk modernisasi demokrasi, kejujurannya, kepercayaan dirinya yang teguh dalam perjuangan … bagi saya ia memberikan suatu ilustrasi tentang adanya kemungkinan suatu tipe baru orang Indonesia, yang benar-benar asli orang Indonesia. Saya pikir pesan inilah yang telah disampaikannya kepada kita, dalam hidupnya yang singkat itu.
… Saya ingin menyampaikan penghormatan pada kenangan Soe Hok-gie, salah seorang intelektual yang paling dinamis dan menjanjikan dari generasi muda pasca kemerdekaan …. Komitmennya yang mutlak untuk modernisasi demokrasi, kejujurannya, kepercayaan dirinya yang teguh dalam perjuangan … bagi saya ia memberikan suatu ilustrasi tentang adanya kemungkinan suatu tipe baru orang Indonesia, yang benar-benar asli orang Indonesia. Saya pikir pesan inilah yang telah disampaikannya kepada kita, dalam hidupnya yang singkat itu.
Kepada Ben Anderson, pakar politik
Indonesia yang juga kawan lengket Soe, dalam salah satu surat terakhirnya, Soe
menulis,
… Saya merasa semua yang tertulis dalam artikel-artikel saya adalah sejumput petasan. Dan semuanya ingin saya isi dengan bom!
… Saya merasa semua yang tertulis dalam artikel-artikel saya adalah sejumput petasan. Dan semuanya ingin saya isi dengan bom!
Dari cuplikan berbagai tulisan Soe, terasa
sekali sikap dan pandangannya yang khas. Misalnya, Soe pernah menulis begini:
Saya mimpi tentang sebuah dunia, di mana ulama – buruh – dan pemuda, bangkit dan berkata – stop semua kemunafikan, stop semua pembunuhan atas nama apa pun. Tak ada rasa benci pada siapa pun, agama apa pun, dan bangsa apa pun. Dan melupakan perang dan kebencian, dan hanya sibuk dengan pembangunan dunia yang lebih baik.
Saya mimpi tentang sebuah dunia, di mana ulama – buruh – dan pemuda, bangkit dan berkata – stop semua kemunafikan, stop semua pembunuhan atas nama apa pun. Tak ada rasa benci pada siapa pun, agama apa pun, dan bangsa apa pun. Dan melupakan perang dan kebencian, dan hanya sibuk dengan pembangunan dunia yang lebih baik.
Khusus soal mahasiswa, menjelang lulus
sebagai sejarawan, 13 Mei 1969, Soe sempat menulis artikel Mimpi-Mimpi Terakhir
Seorang Mahasiswa Tua. Dalam uraian tajam itu, ia menyatakan:
… Beberapa bulan lagi saya akan pergi dari dunia mahasiswa. Saya meninggalkan dengan hati berat dan tidak tenang. Masih terlalu banyak kaum munafik yang berkuasa. Orang yang pura-pura suci dan mengatasnamakan Tuhan … Masih terlalu banyak mahasiswa yang bermental sok kuasa. Merintih kalau ditekan, tetapi menindas kalau berkuasa.
… Beberapa bulan lagi saya akan pergi dari dunia mahasiswa. Saya meninggalkan dengan hati berat dan tidak tenang. Masih terlalu banyak kaum munafik yang berkuasa. Orang yang pura-pura suci dan mengatasnamakan Tuhan … Masih terlalu banyak mahasiswa yang bermental sok kuasa. Merintih kalau ditekan, tetapi menindas kalau berkuasa.
Saat dirinya masuk korps dosen FSUI, secara
blak-blakan Soe mengungkap ada dosen yang membolos 50% dari jatah jam
kuliahnya. Bahkan ada dosen menugaskan mahasiswa menerjemahkan buku. Terjemahan
mahasiswa itu dipakainya sebagai bahan pengajaran, karena sang dosen ternyata
tidak tahu berbahasa Inggris.
Masih di seputar mahasiswa, dalam nada
getir, Soe menulis:
… Hanya mereka yang berani menuntut haknya, pantas diberikan keadilan. Kalau mahasiswa Indonesia tidak berani menuntut haknya, biarlah mereka ditindas sampai akhir zaman oleh sementara dosen-dosen korup mereka.
… Hanya mereka yang berani menuntut haknya, pantas diberikan keadilan. Kalau mahasiswa Indonesia tidak berani menuntut haknya, biarlah mereka ditindas sampai akhir zaman oleh sementara dosen-dosen korup mereka.
Khusus untuk wakil mahasiswa yang duduk dalam
DPR Gotong Royong, Hok Gie sengaja mengirimkan benda peranti dandan. Sebuah
sindiran supaya wakil mahasiswa itu nanti bisa tampil manis di mata pemerintah.
Padahal wakil mahasiswa itu teman-temannya sendiri yang dijuluki “politisi
berkartu mahasiswa”. Langkah Soe ini membuat mereka terperangah. Sayangnya,
momentum ini kandas. Soe Hok Gie keburu tewas tercekik gas beracun di Puncak
Mahameru.
Berpolitik Cuma Sementara
John Maxwell dalam epilog naskah buku Mengenang Seorang Demonstran (November 1999), menulis begini,
“Saya sadar telah menulis tentang seorang pemuda yang hidupnya berakhir tiba-tiba, dan terlalu dini dengan masa depan yang penuh dengan kemungkinan yang begitu luas.”
John Maxwell dalam epilog naskah buku Mengenang Seorang Demonstran (November 1999), menulis begini,
“Saya sadar telah menulis tentang seorang pemuda yang hidupnya berakhir tiba-tiba, dan terlalu dini dengan masa depan yang penuh dengan kemungkinan yang begitu luas.”
Kita telah memperhatikan bagaimana Soe Hok
Gie terpana politik dan peristiwa nasional, setidak-tidaknya sejak masih remaja
belasan tahun … namun hasratnya terhadap dunia politik, diredam oleh
penilaiannya sendiri bahwa dunia politik itu pada dasarnya lumpur kotor. Semua
orang seputar Soekarno dinilainya korup dan culas, sementara pimpinan partai
dan politisi terkemuka, tidak lebih dari penjilat dan bermental “asal bapak
senang”, serta “yes men”, atau sudah pasrah.
Pandangan ini menjadi latar belakang
pembelaan Soe akan kekuatan moral dalam politik di awal tahun 1966.
Keikutsertaannya dalam politik hanya untuk sementara. Pada pertengahan tahun
yang sama, dia menyampaikan argumentasi bahwa sudah tiba saatnya bagi mahasiswa
untuk mundur dari arena politik dan membiarkan politisi profesional bertugas,
membangun kembali institusi politik bangsa.” Demikian tulis Maxwell.
Soe memang sudah bersikap. Dia memilih
mendaki gunung daripada ikut-ikutan berpolitik praktis. Dia memilih bersikap
independen dan kritis dengan semangat bebas. Pikiran dan kritiknya tertuang
begitu produktif dalam pelbagai artikel di media cetak. Namun secara diam-diam,
Soe ternyata juga menumpahkan unek-uneknya dalam bentuk puisi indah. Salah
satunya Mandalawangi-Pangrango yang terkenal di kalangan pendaki gunung.
Pemuda lajang yang sempat pacaran dengan
beberapa gadis manis FSUI, selain kutu buku, macan mimbar diskusi, kambing
gunung, tukang nonton film, juga penggemar berat folk song (meski sama sekali
tak becus bernyanyi merdu). Berbadan kurus nyaris kerempeng, di gunung makannya
gembul.
Bagi pemuda dan khususnya mahasiswa
demonstran, masih ada potongan puisi Hok Gie yang sempat tercecer, baru muncul
di harian Sinar Harapan 18 Agustus 1973. Judulnya “Pesan” dan cukilan
pentingnya berbunyi:
Hari ini aku lihat kembali
Wajah-wajah halus yang keras
Yang berbicara tentang kemerdekaaan
Dan demokrasi
Dan bercita-cita
Menggulingkan tiran
Aku mengenali mereka
yang tanpa tentara mau berperang melawan diktator
dan yang tanpa uang
mau memberantas korupsi.
Wajah-wajah halus yang keras
Yang berbicara tentang kemerdekaaan
Dan demokrasi
Dan bercita-cita
Menggulingkan tiran
Aku mengenali mereka
yang tanpa tentara mau berperang melawan diktator
dan yang tanpa uang
mau memberantas korupsi.
Kawan-kawan
Kuberikan padamu cintaku
Dan maukah kau berjabat tangan
Selalu dalam hidup ini?
Kuberikan padamu cintaku
Dan maukah kau berjabat tangan
Selalu dalam hidup ini?
No comments:
Post a Comment