9.6.13

Kumpulan Puisi Wiji Thukul


Ucapkan Kata-Katamu, -Wiji Thukul-
...
Jika kau tak berani lagi bertanya
Kau akan jadi korban keputusan-keputusan
Jangan kau penjarakan ucapanmu
Jika kita menghamba kepada ketakutan
Kita memperpanjang barisan perbudakan




PERINGATAN
.
Jika rakyat pergi
Ketika penguasa pidato
Kita harus hati-hati
Barangkali mereka putus asa
.
Kalau rakyat bersembunyi
Dan berbisik-bisik
Ketika membicarakan masalahnya sendiri
Penguasa harus waspada dan belajar mendengar
.
Bila rakyat berani mengeluh
Itu artinya sudah gawat
Dan bila omongan penguasa
Tidak boleh dibantah
Kebenaran pasti terancam
Apabila usul ditolak tanpa ditimbang
Suara dibungkam kritik dilarang tanpa alasan
Dituduh subversif dan mengganggu keamanan
Maka hanya ada satu kata: lawan!

(Wiji Thukul, 1986)



SAJAK SUARA
.

sesungguhnya suara itu tak bisa diredam
mulut bisa dibungkam
namun siapa mampu menghentikan nyanyian bimbang
dan pertanyaan-pertanyaan dari lidah jiwaku
suara-suara itu tak bisa dipenjarakan
di sana bersemayam kemerdekaan
apabila engkau memaksa diamaku
siapkan untukmu: pemberontakan!
.
sesungguhnya suara itu bukan perampok
yang ingin merayah hartamu
ia ingin bicara
mengapa kau kokang senjata
dan gemetar ketika suara-suara itu
menuntut keadilan?
sesungguhnya suara itu akan menjadi kata
ialah yang mengajari aku bertanya
dan pada akhirnya tidak bisa tidak
engkau harus menjawabnya
apabila engkau tetap bertahan
aku akan memburumu seperti kutukan
...


BUNGA DAN TEMBOK
.
Seumpama bunga
Kami adalah bunga yang tak
Kau hendaki tumbuh
Engkau lebih suka membangun
Rumah dan merampas tanah
.
Seumpama bunga
Kami adalah bunga yang tak
Kau kehendaki adanya
Engkau lebih suka membangun
Jalan raya dan pagar besi
.
Seumpama bunga
Kami adalah bunga yang
Dirontokkan di bumi kami sendiri
.
Jika kami bunga
Engkau adalah tembok itu
Tapi di tubuh tembok itu
Telah kami sebar biji-biji
Suatu saat kami akan tumbuh bersama
Dengan keyakinan: engkau harus hancur!
.
Dalam keyakinan kami
Di manapun – tirani harus tumbang!



NYANYIAN AKAR RUMPUT

jalan raya dilebarkan
kami terusir
mendirikan kampung
digusur
kami pindah-pindah
menempel di tembok-tembok
dicabut
terbuang
kami rumput
butuh tanah
dengar!
Ayo gabung ke kami
Biar jadi mimpi buruk presiden!


 ...
 Kau lempar aku dalam gelap
Hingga hidupku menjadi gelap
Kau siksa aku sangat keras
Hingga aku makin mengeras
Kau paksa aku terus menunduk
Tapi keputusan tambah tegak
Darah sudah kau teteskan
Dari bibirku
Luka sudah kau bilurkan
Ke sekujur tubuhku
Cahaya sudah kau rampas
Dari biji mataku
Derita sudah naik seleher
Kau menindas
Sampai
Di luar batas

Wiji Thukul,17 November 1996


Puisi ini menceritakan bagaimana untuk pertama kaliya nama Wiji Thukul disebut di televisi sebagai biang kerusuhan peristiwa 27 Juni 1996;

Pagi itu kemarahannya disiarkan oleh televisi.
Tapi aku tidur.
Istriku yang menonton.
Istriku kaget.
Sebab seorang letnan jenderal menyeret-nyeret namaku.
Dengan tergopoh-gopoh selimutku ditarik-tarik.
Dengan mata masih lengket aku bertanya: mengapa?
Hanya beberapa patah kata keluar dari mulutnya: "Namamu di
televisi...."


Aku Diburu Pemerintah Sendiri 

Aku diburu pemerintahku sendiri
Layaknya aku ini penderita penyakit berbahaya
...
Aku sekarang buron
Tapi jadi buron pemerintah yang lalim
Bukanlah cacat
Pun seandainya aku dijebloskan ke dalam penjaranya.


 Masihkah Kau Membutuhkan Perumpamaan?

Waktu aku jadi buronan politik
Karena bergabung dengan Partai Rakyat Demokratik
Namaku diumumkan di koran-koran
Rumahku digrebek --biniku diteror
Dipanggil Koramil diinterogasi diintimidasi
(anakku --4 th-- melihatnya!)
...
Masihkah kau membutuhkan perumpamaan
untuk mengatakan: AKU TIDAK MERDEKA!


Wani, Bapak Harus Pergi
Wani,
Bapakmu harus pergi
Kalau teman-temanmu tanya kenapa bapakmu dicari-cari polisi
Jawab saja: "karena bapakku orang berani"

No comments:

Post a Comment